Kadang, luka adalah tempat terbaik untuk tumbuh.
Ada luka yang tak terlihat,
namun terasa hingga ke relung jiwa.
Disya pernah ingin menyerah.
Hidup terasa terlalu gelap, terlalu sunyi untuk dijalani.
Ada hari-hari ketika ia tak lagi percaya pada doa,
dan hanya air mata yang menemaninya bertahan.
Namun, hidup ternyata tidak sekejam yang ia kira.
Perlahan, cahaya itu datang—
lewat Ummi yang tak pernah berhenti berdoa,
lewat saudara yang hadir tanpa banyak tanya,
lewat cinta yang lembut, yang menuntunnya pulang.
Dari reruntuhan dirinya, Disya belajar:
luka tidak selalu harus disembuhkan.
Kadang, luka adalah tempat terbaik untuk tumbuh,
tempat kita belajar menerima, memahami, dan kembali hidup.
Cahaya Itu Bernama Disya adalah kisah nyata tentang kehilangan,
tentang doa yang sempat terhenti
namun akhirnya menemukan jalan pulang,
dan tentang perjalanan seorang perempuan
yang belajar menyalakan cahayanya sendiri.
Karena di balik setiap luka, selalu ada cahaya—
dan kali ini, cahaya itu bernama Disya.
Penulis : Ulya Nisa
Tebal buku : 336 halaman
Dimensi : 14 cm x 20 cm
Penerbit : CV. IAM Publishing
Kertas : Book Paper
Isi : Hitam Putih


Ulasan
Belum ada ulasan.